Tampilkan postingan dengan label Sosok. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Sosok. Tampilkan semua postingan

Kamis, 30 April 2015

Bapak Pendidikan Nasional Ki Hajar Dewantara (2 Mei 1889 - 26 April 1959) By Slamet Priyadi 42

Ki Hajar Dewantara ( 2 Mei 1889-
Kamis, 01 Mei 2015 - 05:15 WIB - SETIAP tahun pada tanggal 2 Mei, Institusi Pendidikan, khususnya di jajaran Kemendiknas secara nasional memperingati “Hari Pendidikan Nasional”. Pertanyaannya adalah mengapa peringatan Hari Pendidikan Nasional itu diperingati pada 2 Mei?  Jawabannya tentu kita sudah tahu. Akan tetapi mungkin saja di antara kita banyak yang sudah lupa atau bahkan mungkin tidak tahu dan tidak mengenalnya siapa sosok Ki Hajar Dewantara.

Nah, melalui tulisan inilah saya berupaya untuk membangkitkan kembali ranah kognitif kita memunculkan kembali ingatan kita pada sosok Ki Hajar Dewantara yang fenomenal itu. Tentu saja dalam rangka menghormati, mengenang jasa, dan meneladani sepak terjang serta perjuangan beliau yang begitu keras bagi kemajuan bangsa Indonesia khususnya dalam dunia Pendidikan Nasional kita.

Menurut sejarahnya, Ki Hajar Dewantara dilahirkan di kota budaya yang dikenal juga dengan sebutan kota pelajar, Yogyakarta pada tanggal 2 Mei 1889 dengan nama Raden Mas Suwardi Suryaningrat. Ayahnya adalah seorang Pangeran bernama “Pangeran Suryaningrat” putra Paku Alam ke-4 dari Yogyakarta. 

Selepas lulus sekolah dasar Belanda “ELS” ( Europesche Largere School ), beliau melanjutkan ke Sekolah Guru juga ke STOVIA. Akan tetapi di sekolah ini Ki Hajar Dewantara tidak bisa menyelasaikan studinya sampai selesai karena bea siswa yang diperolehnya dihentikan alias dicabut karena gagal dalam mengikuti ujian kenaikan tingkat.

Pelajaran yang bisa kita peroleh dari keteladanan beliau adalah pada sikap tegar tak kenal putus asa, meskipun beliau gagal dalam ujian, dan oleh karena itu pula bea siswanya  sampai dicabut atau dihentikan, beliau sama sekali tidak kecewa, tidak putus asa bahkan tetap tegar menghadapinya. Hal ini dibuktikannya dengan aktif dalam kegiatan menulis yang lebih intens dalam organisasi pergerakan pemuda yang sebelumnya memang sudah digelutinya.

Beberapa tulisan beliau banyak menjadi pembicaraan dalam mesyarakat, bahkan dua buah tulisannya yang berisi kritikan terhadap pemerintah Kolonial belanda mendapat perhatian khusus. Kedua tulisan itu diberi judul, “Als Ik Een NederlanderWas” (Seandainya Aku Seorang Belanda), dan “Een Voor Allen maar Ook Allen voor Een” (Satu untuk Semua, Namun Semua untuk Satu Jagad).

Selain aktif menulis dan bekerja di sebuah Apotek Rathkamp, Yogyakarta, Ki Hajar Dewantara pun aktif dalam berorganisasi. Beliau masuk organisasi “Boedi Oetomo” berada dalam divisi propaganda. Bersama-sama dengan Danudirja, Setyabudi, dan Cipto Mangunkusumo  mendirikan “IP” (Indische Partij di Bandung.

Terlalu keras dan dianggap banyak menyulitkan pemerintah kolonial Belanda, ketiganya pun ditangkap dan diasingkan ke Negeri Belanda selama 6 tahun. Akan tetapi yang namanya Ki Hajar Dewantara memang memiliki sikap ketegaran yang luar biasa. Ia pantang menyerah dan terus berjuang keras membangun jiwa, membangun karakter bangsa. Di Negeri Belanda ini beliau memanfaatkan waktu luangnya dengan mengasah terus wawasan inteletualnya dengan belajar ilmu pendidikan sampai akhirnya memperoleh “Akta Guru Eopa” (Euroopeesche Akte).

Selepas pulang dari pengasingan selama 6 tahun dan memperoleh Akta Guru Eropa, Ki Hajar Dewantara mendarmabaktikan keilmuannya menjadi Guru di sekolah yang didirikan oleh sahabatnya Soeryopranoto. Di sekolah ini ia tetap berjuang keras untuk membangun jiwa, membangun karakter bangsa dengan berbagai pandangan-pandangan hidup dan pemikiran-pemikirannya yang berkait dengan karakter bangsa. Sampai pada akhirnya beliau Ki Hajar Dewantara mendirikan “Perguruan Nasiona Tamansiswa” (Onderwijs Institut Tamansiswa) pada tanggal 3 Juli 1922.

Karena ketokohannya dalam dunia pendidikan menjadikan beliau, Ki Hajar Dewantara dipercaya dan ditunjuk menjadi salah satu anggota PUTERA (Pusat Tenaga Rakyat) di era penjajahan Jepang. Beliau juga dipercaya terpilih sebagai Menteri Pengajaran Kabinet Pertama Republik Indonesia pada tanggal 2 September 1945. Beliau, Ki Hajar Dewantara terus berkiprah, berjuang tak kenal lelah dan putus asa, membangun jiwa, membangun karakter bangsa lewat pendidikan hingga pada akhir hayatnya.

Ajaran Ki Hajar Dewantara yang sampai sekarang tetap terpatri di setiap jiwa para pemimpin dan terutama para guru adalah:

1.    Ing Ngarso Sung Tulodo” (di depan menjadi teladan),
Artinya bahwa seorang pemimpin haruslah mempuanyai sikap dan prilaku yang baik dan menjadi contoh suri tauladan bagi masyarakat.

2.    Ing Madyo Mangun Karso” (di tengah membangun dan membangkitkan karsa),
Artinya bahwa seorang peminpin ketika berada di tengah-tengah masyarakat haruslah dapat menciptakan peluang-peluang agar masyarakat dapat berkarya dengan baik.

3.    Tut wuri Handayani” (di belakang memberi dorongan semangat dan motivasi)
Artinya bahwa seorang pemimpin ketika berada di belakang haruslah menjadi pendorong semangat, menjadi motivator bagi masyarakat.

Beliau, Ki Hajar Dewantara, wafat pada tanggal 26 April 1959 di Yogyakarta dan dimakamkan di Pemakaman Wijayabrata, Yogyakarta. Oleh karena jasanya yang begitu besar terhadap bangsa dan negara Pemerintah Republik Indonesia menganugerahi beliau sebagai Pahlawan Pergerakan Nasional tahun 1959. Dan, hari lahirnya pun diperingati sebagai “HARI PENDIDIKAN NASIONAL”.

Sebagai hormat dan sumbangsih penulis pada keteladan sikap, sepak terjang, dan perjuangan beliau serta untuk mengenang dan mengabadikan jasa-jasa beliau, penulis menciptakan satu lagu yang penulis beri judul “Bapak Pendidikan Nasional Ki Hajar Dewantara”.

BAPAK PENDIDIKAN NASIONAL
“KI HAJAR DEWANTARA”
Ciptaan: Slamet Priyadi

Bapak Pendidikan Nasional
Ki Hajar Dewantara
Berjuang keras membangun jiwa
Membangun karakter bangsa

Bapak Pendidikan Nasional
Ki Hajar Dewantara
Ajarannya menjadi teladan
Bagi kita semua

Reffrein:

Ing ngarso sung tulodo
Di depan menjadi teladan
Ing madyo mangun karso
Di tengah membangun karsa
Tut wuri handayani
Di belakang memberi
Dorongan s’mangat dan motivasi

Penulis:
Slamet Priyadi 42, di Pangarakan – Bogor

"MGMP SENI SMAN 42 JAKARTA": Bapak Pendidikan Nasional Ki Hajar Dewantara (2 M...: Denmas Priyadi - Jumat,, 01 Mei 2013 - 04:56 WIB Ki Hajar Dewantara (2 Mei 1889-26 April 1959) ...

Selasa, 24 Desember 2013

Cerita Mahfud MD soal kelebihan Gus Dur



Reporter : Parwito | Selasa, 17 Desember 2013 04:14
Mahfud MD Capres PKB. ©2013 merdeka.com/parwito  
Merdeka.com - Kisah tentang Gus Dur kali ini dituturkan Mahfud MD , mantan Ketua Mahkamah Konstitusi ( MK ). Sebagai orang dekat Gus Dur , Mahfud tentu memiliki kenangan-kenangan kisah yang masih menancap, misalnya dalam bentuk humor atau dalam bentuk karomah.

Ditemui merdeka.com dalam acara deklarasi
Mahfud MD sebagai Capres 2014 di Pondok Pesantren Asrama Perguruan Islam (Ponpes API) Tegalrejo, Kabupaten Magelang, Jawa Tengah, politisi asal Madura itu antusias bercerita soal Gus Dur . Misalnya kisah ketika dia diangkat menjadi Menteri Pertahanan.

"Saya cerita pada suatu hari Presiden Abdurrahman Wahid memanggil saya dan mengatakan, 'Pak Mahfud saya perlu tiga ahli tata negara. Saya sudah punya dua tapi kurang satu'. Pertama ahli yang dimiliki Yusril. 'Yusril akan saya angkat kembali jadi Menkumham. Yang kedua Marsilam Simanjuntak akan saya angkat menteri sekretaris kabinet. Lalu yang ketiga antum'," kata
Gus Dur .

Mahfud pun merasa tidak percaya dengan apa yang dilakukan
Gus Dur tersebut. Bahkan dia langsung menawar beberapa kali supaya tidak dijadikan menteri pertahanan. Namun beberapa kali penolakan tidak digubris sama sekali oleh Gus Dur .

"Saya tidak percaya. Saya kira saat itu menteri pertanahan. Ternyata bukan menteri pertanahan, tapi menteri pertahanan. Saya lalu bilang, tidak pernah belajar ketahanan.
Gus Dur menjawab, 'saya saja tidak belajar jadi presiden, bisa jadi presiden, politik itu sifatnya umum'," kata Mahfud menirukan Gus Dur .

Mahfud lalu menawar, bagaimana kalau menteri kehakiman?
Gus Dur mengatakan tidak bisa karena Yusril senang berada di situ. Bagaimana kalau menteri sekretaris kabinet? Tidak bisa, karena Marsilam orangnya teliti. Saya perlukan tenaganya urus surat biar tidak salah.

"Saya tawar, bapak presiden, saya urus Deputi Kemenkumham gantikan Pak Hasbalah M Sa'ad? Tidak bisa besok saya bubarkan," tutur Mahfud.

Mahfud kemudian keluar dan langsung diberi masukan oleh salah seorang temannya supaya tidak menolak permintaan
Gus Dur menjadi menteri pertahanan. Namun, Mahfud menganggap penunjukan Gus Dur itu lucu dan aneh.

"Saya keluar, salah satu rekan saya bilang, antum (kamu) jangan tawar terus kalau tidak mau tidak jadi menteri. Siap saya terima dan laksanakan. Itu pengangkatan lucu dan aneh. Ketika jabatan itu saya terima besok jam 8 malam rencana akan diumumkan. Lalu saya disuruh berikan kartu nama. Tidak punya kartu nama, akhirnya saya tulis di kertas. Saya tidak bawa kartu nama," ucapnya.

Begitu pulang ke rumah, Mahfud langsung mengatakan ke keluarganya bahwa dirinya ditunjuk sebagai menteri. Namun, istrinya tidak percaya dengan pengumuman yang disiarkan televisi dan dipercepat pengumumannya.

"Saya bilang sama anak-anak dan keluarga kumpul. Tapi tiba-tiba pengumuman menteri dimajukan. Diumumkan jam empat sore. Anak-anak saya pada main. Ketika diumumkan hanya ada istri, istri saya tidak percaya. 'Bukan! Masak kamu jadi menteri'. Kemudian saya yakinkan, terus telepon berdering di tengah malam," ungkapnya.

Bahkan, penunjukan Mahfud sebagai Menhan oleh
Gus Dur saat itu mendapatkan banyak protes dari berbagai kalangan. Di antaranya, tokoh reformasi saat itu Amien Rais bahkan Wakil Presiden Megawati juga memprotes rencana Gus Dur itu.

"Yang mengagetkan banyak komentar sinis.
Amien Rais marah. Amien ngomong, 'itu salah itu, Gus Dur pilih teman jadi menteri'. Di mana-mana Menhan orangnya harus kelas dunia. Affan Gaffar bilang, Mahfud jadi Menhan dia gali kuburnya sendiri. Megawati di berita gak setuju. Gus Dur bilang kemana Wapres gak ada? Biasa kalau perempuan mandi ya pulang mandi. Menkeu Priyadi dan Mahfud MD yang diejek dua hari. Gus Dur disalah-salahkan," ujar Mahfud mengenang.

Mahfud kemudian mengundang rekan-rekan Ikatan Cendekiawan Muslim dari Madura yang diketuai oleh doktor Malik Mardani yang kini menjadi Khatib Am Suriyah NU didampingi KH Sahal Mahfud untuk menyampaikan niatnya mundur.

"Selain itu, rekan dosen IAIN dan UIN juga saya undang. Saya bilang, Mas Malik saya buat kesalahan terlanjur jadi menteri bukan bidang saya. Meski saya sudah bersedia tetapi kasihan
Gus Dur kalau diejek seperti ini. Saya ndak minta. Maksud saya kenal Gus Dur tapi tidak pernah dekat tiba-tiba dipanggil jadi menteri. Saya mau mundur saja."

Tidak didukung niatnya untuk mundur, malah diminta untuk tetap mempertahankan amanat yang diberikan
Gus Dur . Malahan, di tengah pertemuan itu, Mahfud langsung ditelepon oleh Gus Dur untuk tidak mundur dari jabatan Menhan.

"Malik beri nasehat, 'kalau tidak minta jabatan menterinya sampean jangan mundur. Jangan kamu minta jabatan, karena kamu akan sendiri dan dibiarkan oleh Allah. Tapi kalau kamu tidak minta (jabatan), maka Allah akan membantumu. Tiba-tiba handphone berdering sedang ada tamu, halo Pak Mahfud ini ajudan presiden mohon bicara, presiden bicara. Saya lagi di Gresik, Pak Mahfud, sedang meresmikan Semen Gresik, Pak Mahfud jangan mundur," selorohnya.

Momentum itu bagi Mahfud terasa aneh dan ajaib karena seolah-olah
Gus Dur mengetahui pertemuan itu tanpa di beritahu oleh siapapun. Dia tidak tahu, apakah itu sesuatu yang kebetulan atau tidak. Tapi dia menilai, sepertinya Gus Dur dari kejauhan tahu.

"Anda bekerja saja, sebulan ke depan nanti jadi orang hebat. Dari situ kemudian saya belajar sehingga saya simpulkan cerita tentang
Gus Dur apa yang saya bawa dari amanat Gus Dur adalah ikon NU terkemuka. Amanat seperti ditulis dalam spanduk depan amanat yang dibawa, pikirannya Gus Dur adalah ahlussunnah wal jamaah," pungkas Mahfud.

Sabtu, 21 Desember 2013

Cerita Gus Dur dan gelang kenur 'sakti'



Reporter : Mohamad Taufik | Sabtu, 7 Desember 2013 06:00


Gus Dur-Hugo Chavez. ©Reuters
Merdeka.com - Banyak kisah kesaktian atau karomah melekat pada sosok Gus Dur. Kisah-kisah itu dituturkan orang-orang dekat mantan presiden keempat itu. Namun demikian, ada juga yang menganggap Gus Dur sebenarnya hanya manusia biasa. Kesaktian-kesaktian itu sebenarnya bisa dinalar dengan akal sehat.

"Menurut saya, Gus Dur biasa saja sih. Wong ya bisa sakit juga," kata Wakil Bendahara Umum Partai Kebangkitan Bangsa (PKB) Bambang Susanto, orang yang sering menemani Gus Dur pergi tiga tahun terakhir sebelum meninggal.

Misalnya kabar soal kesaktian Gus Dur yang selalu tertidur dalam rapat atau acara-acara diskusi, tapi ketika bangun masih nyambung dengan topik bahasan. Ketika Bambang bertanya, benar pak seperti itu? Gus Dur menjawab, gampang saja. "Ambil saja ujung bahasan terakhir, paling-paling ga jauh dari situ."

Lalu bagaimana soal kesaktian lain, misalnya benda pusaka, jimat atau semacamnya? Bambang menjelaskan, soal jimat atau semacamnya itu karena banyak orang yang memberi. Sementara Gus Dur bukanlah orang yang tega menolak pemberian orang. Apalagi si pemberi datang dari tempat jauh hanya untuk menemui Gus Dur.

"Jadi alasannya itu karena Gus Dur paling tidak bisa menolak pemberian orang. Beliau bukan mencari-cari (jimat atau pusaka), tapi karena diberi oleh orang-orang," terangnya kepada merdeka.com, Rabu (4/11).

Misalnya, gelang kenur (gelang tangan terbuat dari tali kenur) yang selalu dipakai di pergelangan tangan kanan Gus Dur. Pernah suatu waktu Gus Dur berkata, gelang itu tidak akan dilepas. Dia akan menjaga gelang agar tidak terputus. Alasannya, kalau putus negara ini akan tertimpa malapetaka.

Gus Dur belakangan menjelaskan, sebenarnya alasan merawat gelang itu bukan karena percaya pada kesaktian (musyrik). Namun, kata Bambang, lebih pada menghargai si pemberi yang datang dari tempat jauh hanya sekadar ingin memberi hadiah gelang kepada Gus Dur.

"Kata Gus Dur, kasihan orang yang memberi, jauh-jauh datang cuma pengen memberi gelang. Kalau dia (pemberi) tahu gelang putus, tidak dipakai, bisa lebih bahaya lagi, dia bisa teriak-teriak di luar (Indonesia dalam bahaya karena gelang Gus Dur putus)," ujar Bambang sambil tertawa.

Hal senada dituturkan salah satu santri Gus Dur, Nuruddin Hidayat. Menurut dia, Gus Dur bukan lagi mengurusi masalah kesaktian atau pusaka-pusaka seperti itu. Memang, selama Gus Dur masih hidup, banyak orang-orang bergantian datang ke kediaman untuk memberi pusaka-pusaka tersebut.

"Sama Gus Dur diterima saja. Ada yang memberi gratis, ada yang menjual, ada juga yang meminta mahar. Gus Dur melihat orang yang meminta uang itu pasti orang butuh. Kalau (pusaka) setelah diterima ya ditaruh di gudang ga diapa-apain, entah masih ada pamornya apa tidak," ujarnya.

Itulah sisi lain dari Gus Dur, selain dikenal sebagai politikus, kiai, pengamat, dan budayawan, juga dikenal lewat humor dan kerap dihubung-hubungkan dengan mistis serta kesaktian.