Selasa, 24 Desember 2013

Cerita Mahfud MD soal kelebihan Gus Dur



Reporter : Parwito | Selasa, 17 Desember 2013 04:14
Mahfud MD Capres PKB. ©2013 merdeka.com/parwito  
Merdeka.com - Kisah tentang Gus Dur kali ini dituturkan Mahfud MD , mantan Ketua Mahkamah Konstitusi ( MK ). Sebagai orang dekat Gus Dur , Mahfud tentu memiliki kenangan-kenangan kisah yang masih menancap, misalnya dalam bentuk humor atau dalam bentuk karomah.

Ditemui merdeka.com dalam acara deklarasi
Mahfud MD sebagai Capres 2014 di Pondok Pesantren Asrama Perguruan Islam (Ponpes API) Tegalrejo, Kabupaten Magelang, Jawa Tengah, politisi asal Madura itu antusias bercerita soal Gus Dur . Misalnya kisah ketika dia diangkat menjadi Menteri Pertahanan.

"Saya cerita pada suatu hari Presiden Abdurrahman Wahid memanggil saya dan mengatakan, 'Pak Mahfud saya perlu tiga ahli tata negara. Saya sudah punya dua tapi kurang satu'. Pertama ahli yang dimiliki Yusril. 'Yusril akan saya angkat kembali jadi Menkumham. Yang kedua Marsilam Simanjuntak akan saya angkat menteri sekretaris kabinet. Lalu yang ketiga antum'," kata
Gus Dur .

Mahfud pun merasa tidak percaya dengan apa yang dilakukan
Gus Dur tersebut. Bahkan dia langsung menawar beberapa kali supaya tidak dijadikan menteri pertahanan. Namun beberapa kali penolakan tidak digubris sama sekali oleh Gus Dur .

"Saya tidak percaya. Saya kira saat itu menteri pertanahan. Ternyata bukan menteri pertanahan, tapi menteri pertahanan. Saya lalu bilang, tidak pernah belajar ketahanan.
Gus Dur menjawab, 'saya saja tidak belajar jadi presiden, bisa jadi presiden, politik itu sifatnya umum'," kata Mahfud menirukan Gus Dur .

Mahfud lalu menawar, bagaimana kalau menteri kehakiman?
Gus Dur mengatakan tidak bisa karena Yusril senang berada di situ. Bagaimana kalau menteri sekretaris kabinet? Tidak bisa, karena Marsilam orangnya teliti. Saya perlukan tenaganya urus surat biar tidak salah.

"Saya tawar, bapak presiden, saya urus Deputi Kemenkumham gantikan Pak Hasbalah M Sa'ad? Tidak bisa besok saya bubarkan," tutur Mahfud.

Mahfud kemudian keluar dan langsung diberi masukan oleh salah seorang temannya supaya tidak menolak permintaan
Gus Dur menjadi menteri pertahanan. Namun, Mahfud menganggap penunjukan Gus Dur itu lucu dan aneh.

"Saya keluar, salah satu rekan saya bilang, antum (kamu) jangan tawar terus kalau tidak mau tidak jadi menteri. Siap saya terima dan laksanakan. Itu pengangkatan lucu dan aneh. Ketika jabatan itu saya terima besok jam 8 malam rencana akan diumumkan. Lalu saya disuruh berikan kartu nama. Tidak punya kartu nama, akhirnya saya tulis di kertas. Saya tidak bawa kartu nama," ucapnya.

Begitu pulang ke rumah, Mahfud langsung mengatakan ke keluarganya bahwa dirinya ditunjuk sebagai menteri. Namun, istrinya tidak percaya dengan pengumuman yang disiarkan televisi dan dipercepat pengumumannya.

"Saya bilang sama anak-anak dan keluarga kumpul. Tapi tiba-tiba pengumuman menteri dimajukan. Diumumkan jam empat sore. Anak-anak saya pada main. Ketika diumumkan hanya ada istri, istri saya tidak percaya. 'Bukan! Masak kamu jadi menteri'. Kemudian saya yakinkan, terus telepon berdering di tengah malam," ungkapnya.

Bahkan, penunjukan Mahfud sebagai Menhan oleh
Gus Dur saat itu mendapatkan banyak protes dari berbagai kalangan. Di antaranya, tokoh reformasi saat itu Amien Rais bahkan Wakil Presiden Megawati juga memprotes rencana Gus Dur itu.

"Yang mengagetkan banyak komentar sinis.
Amien Rais marah. Amien ngomong, 'itu salah itu, Gus Dur pilih teman jadi menteri'. Di mana-mana Menhan orangnya harus kelas dunia. Affan Gaffar bilang, Mahfud jadi Menhan dia gali kuburnya sendiri. Megawati di berita gak setuju. Gus Dur bilang kemana Wapres gak ada? Biasa kalau perempuan mandi ya pulang mandi. Menkeu Priyadi dan Mahfud MD yang diejek dua hari. Gus Dur disalah-salahkan," ujar Mahfud mengenang.

Mahfud kemudian mengundang rekan-rekan Ikatan Cendekiawan Muslim dari Madura yang diketuai oleh doktor Malik Mardani yang kini menjadi Khatib Am Suriyah NU didampingi KH Sahal Mahfud untuk menyampaikan niatnya mundur.

"Selain itu, rekan dosen IAIN dan UIN juga saya undang. Saya bilang, Mas Malik saya buat kesalahan terlanjur jadi menteri bukan bidang saya. Meski saya sudah bersedia tetapi kasihan
Gus Dur kalau diejek seperti ini. Saya ndak minta. Maksud saya kenal Gus Dur tapi tidak pernah dekat tiba-tiba dipanggil jadi menteri. Saya mau mundur saja."

Tidak didukung niatnya untuk mundur, malah diminta untuk tetap mempertahankan amanat yang diberikan
Gus Dur . Malahan, di tengah pertemuan itu, Mahfud langsung ditelepon oleh Gus Dur untuk tidak mundur dari jabatan Menhan.

"Malik beri nasehat, 'kalau tidak minta jabatan menterinya sampean jangan mundur. Jangan kamu minta jabatan, karena kamu akan sendiri dan dibiarkan oleh Allah. Tapi kalau kamu tidak minta (jabatan), maka Allah akan membantumu. Tiba-tiba handphone berdering sedang ada tamu, halo Pak Mahfud ini ajudan presiden mohon bicara, presiden bicara. Saya lagi di Gresik, Pak Mahfud, sedang meresmikan Semen Gresik, Pak Mahfud jangan mundur," selorohnya.

Momentum itu bagi Mahfud terasa aneh dan ajaib karena seolah-olah
Gus Dur mengetahui pertemuan itu tanpa di beritahu oleh siapapun. Dia tidak tahu, apakah itu sesuatu yang kebetulan atau tidak. Tapi dia menilai, sepertinya Gus Dur dari kejauhan tahu.

"Anda bekerja saja, sebulan ke depan nanti jadi orang hebat. Dari situ kemudian saya belajar sehingga saya simpulkan cerita tentang
Gus Dur apa yang saya bawa dari amanat Gus Dur adalah ikon NU terkemuka. Amanat seperti ditulis dalam spanduk depan amanat yang dibawa, pikirannya Gus Dur adalah ahlussunnah wal jamaah," pungkas Mahfud.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar