Sabtu, 31 Mei 2014

3 BUAH PUISI KEJAWEN Karya Slamet Priyadi

Perjuangan Hidup
O J O  D U M E H
Karya: Slamet Priyadi

Sebesar apa pun yang kita punya
Berilmu tinggi, berakhlak mulia
Miliki wajah  cantik atau bertampan wajah
 Berkesejahteraan harta yang melimpah ruah
Hendaknya hati kita selalu bersikap rendah  
Tidaklah sombong, congkak dan pongah.

Sepenuhnya, marilah kita sadari 
 Bersikaplah rendah hati, jangan pamer diri
Dinginkan hati saat kita dihina dan dicaci
 Sebagaimana sifat air yang merunduk bergulir
Ke tempat yang lebih rendah terus mengalir
Seperti sikap tangkai-tangkai padi
Selalu merunduk meski semakin berisi

Mari sirnakan dan lenyapkan kesombongan
Mari singkirkan dan hilangkan keangkuhan
 Tidak ada yang bisa disombongkan manusia
Karena pada awalnya kita berasal dari sperma
 Meski kemudian kita  menjadi manusia sakti digjaya

  Kelak pada akhir pengembaraan kita di marcapada ini
Akan berjumpa mati menjadi bangkai yang tak berarti
 Tak bisa lagi memberi nafkah dan rizki
kepada diri sendiri, saudara, keluarga dan famili
  
Bumi Pangarakan, Bogor
Sabtu, 31 Mei 2014 12:55 WIB



E M P A T H Y
By Slamet Priyadi

Saat kita mampu posisikan diri pada situasi
Dan kondisi yang di hadapi orang lain
Disanalah empathy kita meskinya bermain
Seakan kita sama mengalaminya sendiri

Dalam kemampuan diri untuk mau memahami
Dalam kemampuan diri Untuk mau mengerti
Dalam kemampuan diri untuk mau mendengarkan
Turut hanyut pada inti pokok persoalan
Terlebih awal dari segala keluhan

Maka disanalah akan terbangun kepercayaan
Maka disanalah akan terbangun keterbukaan
Membangun kerja sama yang diperlukan
Dalam setiap mengatasi bermacam persoalan

Dengan begitu akan meringankan beratnya beban
Akan meringankan perihnya sakit radang
Dalam hati, jiwa, dan pikiran seseorang

Curahan rasa simpati yang penuh dengan keikhlasan
Akan sirnakan beban psikologis endapkan rasa egois
Akan tumbuhkan jiwa toleransi penuh harmonisasi
Kembangkan rasa kebersamaan senasib sepenanggunan

Bumi Pangarakan Lido, Bogor
Minggu, 16 Maret 2014 – 13:16 WIB
 



NASEHAT SEEKOR KUPU-KUPU KECIL
Karya: Slamet Priyadi

Saat aku buka dan hidupkan laptop khusus belajar
Ada seekor kupu-kupu kecil hitam hinggap di layar
Hanya sebentar kemudian terbang berputar-putar
Lalu hinggap lagi di atas bungkus rokok anyar
Yang baru aku beli semalam di warung bang Togar
Tetangga sebelah rumah suami dari Rani Sidabutar

Aku biarkan kupu-kupu kecil itu tetap hinggap
Aku terus menulis syair lagu dan puisi dengan sigap
Kupu-kupu kecil itu sepertinya tak merasa terusik
Dengan nada-nada yang ku dendangkan sedikit berisik
Merasa terusik kupu-kupu kecil hitam itu lalu terbang
Berputar-putar di atas kepalaku melayang-layang
Hinggap lagi di bungkus rokok yang ku hisap sebatang

Aku masih saja tak pedulikan kupu-kupu kecil itu
Biarkan ia bertandang di atas bungkus rokokku
Godek-godekkan kepala dan sulurkan semotnya
Matanya menatap nanar ke arahku seperti berkata
“Wahai lelaki tua, kau sepertinya sudah lupa usia!”
Sesaat kemudian kupu-kupu kecil itu terbang lingkar
Melayang  berputar-putar kelilingi lampu yang bersinar

Sambil hisap sebatang rokok dan minum seteguk kopi
Aku teruskan menulis puisi ungkapkan segala inspirasi
Saat asyik ekspresikan dan ungkapkan estetika seni
 Tiba-tiba saja kupu-kupu kecil hitam itu kagetkan aku
Dengan hinggap sebentar gesekkan kaki di telingaku
Serasa menggelitikku, serasa mengusik konsentrasiku

Kupu-kupu kecil hitam itu terbang melayang-layang
Kelilingi ruang kamar belajarku lalu kembali bertandang
Dan hinggap lagi di atas bungkus rokok kemasan usang
Sambil kepakkan sayapnya dan perutn yang hitam belang
Sambil terus angkat-angkatkan kakinya yang bergerigi elang
Sambil terus menerus julur-julurkan itu sulur semot benang
Ke arah bungkus rokok yang masih isi berbatang-batang
  Seperti bicara dan berkata-kata nasehat gancang sayang

Wahai kau lelaki tua! Hentikan kelepus asap rokok berkarat
Itu adalah laku tak baik, tak sehat, dan banyak mudharat
jagalah sehatmu sebelum sakitmu
jagalah hidupmu sebelum matimu
jagalah usiamu sebelum ajalmu
  
Bumi Pangarakan, Bogor
Sabtu, 15 Maret 2014 - 05:18 WIB
 


Jumat, 30 Mei 2014

Berbudi Bawa Leksana, Ambeg Adil Para Marta



Kamis, 06 Maret 2014 | 22:54 wib

Arjuna Ngelmu Kasunyatan
Kekuasaan raja-raja Mataram begitu besar di mata rakyat, sehingga rajyat mengakui bahwa raja sebagai pemilik segala sesuatu, baik harta benda maupun manusia. Karena itu terhadap keinginan raja, rakyat hanya dapat menjawab ’ndherek karsa dalem’ (terserah kepada kehendak raja) kekuasaan yang demikian besar itu dikatakan ”wenang wisesa ing sanagari” (berwenang tertinggidi seluruh negeri).
 
Dalam pewayangan kekuasaan yang besar itu biasanya digambarkan sebagai ”gung binathara, bau dhendha nyakrawati” (sebesar kekuasaan dewa, pemelihara hukum dan penguasa dunia). Dalam kedudukan sebagai penguasa negara, raja berhak mengambil tindakan apa saja dengan cara bagaimana saja terhadap kerajaannya, segala isi yang ada di dalamnya, termasuk hidup manusia. Karena itu kalau raja menginginkan sesuatu, dengan mudah ia akan memerintah untuk mengambilnya. Kalau yang mempertahankan, maka diperanginya. Sebaliknya kalau ada orang yang dipandang tidak pantas berada dalam kedudukannya,  dengan  mudah  saja raja mengambil kedudukannya, dengan membunuhnya bila perlu. Akan tetapi dalam konsep kekuasaan Jawa, kekuasaan yang besar diimbangi dengan kewajiban yang dirumuskan dalam kalimat ”berbudi bawa leksana, ambeg adil para marta” (meluap budi luhur mulia dan sifat adilnya terhadap semua yang hidup, atau adil dan penuh kasih). Raja yang dikatakan baik adalah raja yang menjalankan kekuasaannya dalam keseimbangan antara kewenangannya yang besar dengan kewajibannya yang besar juga. Kekuasaan yang besar di satu pihak dan kewajiban seimbang di lain pihak merupakan isi konsep kekuasaan Jawa.
 
Penerapan konsep keagungbinatharaan yang lengkap dan tepat akan mendatangkan ”negeri ingkang apanjang-apunjung, pasir wukir loh jinawi, gemah ripah, karta tur raharja” (negara yang tersohor karena kewibawaannya yang besar, luas wilayahnya ditandai oleh pegunungan sebagai latar belakangnya, sedang di depannya terdapat sawah yang sangat luas, sungai yang selalu mengalir, dan pantainya terdapat pelabuhan yang besar). Raja yang secara konsekuen menjalankan konsep atau doktrin keagungbinataraan selalu memeperhatikan kesejahteraan rakyatnya, bersikap murah hati, dan sebagainya. Figur raja demikian setidaknya mewakili figur ideal seorang pemimpin dalam suatu pemerintahan. Ungkapan itu sebagai tradisi pewarisan kepemimpinan yang dirasakan kian penting di era komunikasi global sekarang ini. http://m.suaramerdeka.com/bb/bblauncher/SMLauncher.jad 

(Eko Wahyu Budiyanto/CN37)