Jumat, 22 November 2013

Semar Jupuk Prei




Neng Karangdhempel leledhang Kiai Lurah Semar sepranakane Miyat kebon, kebon tegal lan aleren Sami ngundhuh tarupala Suka sindhen sesendhonan Sarwi anjoged genti-genti.
SEKAR tengahan pranasmara ini memberi gambaran ketika Semar sekeluarga sedang cuti. Semar adalah Ketua Dewan Pamomong di Kabupaten Madukara. Bupatinya Drs Janaka SH, MSi, MBA, MM, terpilih karena kakaknya jadi presiden di Republik Amarta dan berkolusi dengan para pengusaha pembalak hutan. Sebetulnya Semar sedih menghadapi kenyataan ini, apalagi Bupati Janaka suka main asmara dengan artis-artis. Malah sudah beredar rekaman adegan porno antara Janaka dengan seorang ronggeng Ibu Kota. Tambah lagi, banyak anggota dewan yang dipimpin terpilih dengan modal ijazah palsu, dan kini hidup sangat pragmatis, kemaruk, licik, dan luar biasa kagetan. Tapi Semar sudah lama sadar seburuk apa pun kenyataan yang ada, semuanya harus diterima. Right or wrong is my country. Dan dia adalah pamomong.
Jadi pamomong memang berat dan sering membuat hati Semar sangat tertekan. Maka ketika datang waktu cuti Semar membawa anak dan istri liburan ke kampung halaman, Karangdhempel. Tidak ke Bali atau ke Jakarta untuk bersenang-senang? O, itu bukan cuti, bukan, leren apalagi lerem. Cuti adalah ngaso, gawe aso, melambatkan perputaran cakra kehidupan. Bagi Semar, cuti harus berarti leren dan lerem. Leren adalah istarahat raga yang dibarengi jiwa yang lerem. Maka dalam waktu cuti itu Semar tidak pergi ke tempat lain untuk berhura-hura, tetapi pergi miyat kebon, melihat kebun. Dan di kebun itu Semar dan keluarga tidak bertindak sebagai tuan tanah, tapi sebagai pembaca sastra kang gumelar untuk menambah kearifan hidup.
Ngundhuh tarupala; taru adalah pohon, pala adalah buah. Apakah ngundhuh tarupala berarti memetik buah-buahan? Bagi anak-anak Semar, itu benar. Namun bagi Semar sendiri pemahamannya lebih dari itu. Ngundhuh tarupala bukan hanya memetik melainkan juga mengambil pelajaran dari pepohonan dan buah-buahan.
Pepohonan adalah peraga amat baik yang disajikan alam untuk bahan pemelajaran bagi siapa saja yang ingin selalu menambah kekayaan jiwa. Lihatlah, betapa tak ada pepohonan yang merusak tanah di bawahnya atau menjadikannya tidak subur. Pepohonan menahan air dengan akar-akarnya untuk menghidupkan beragam jenis bakteri dalam tanah. Daunnya yang berguguran akan membusuk dan dengan demikian zat-zat hara akan dikembalikan ke asalnya.
Pepohonan menghasilkan buah yang akan menjadi makanan buat berbagai jenis binatang dan manusia. Pepohonan pada siang hari menghasilkan oksigen yang menjadi unsur vital dalam kehidupan manusia maupun binatang, bahkan mesin-mesin. Pada buah-buahan pun banyak sekali pelajaran. Buah durian misalnya. Di dalam buah ini ada biji yang akan tumbuh dan menjadi pohon baru. Namun agar bisa hidup lebih baik maka pohon baru harus tumbuh jauh dari induknya. Durian tak punya tangan atau kaki untuk membawa bijinya menjauh. Maka durian akan memberi upah kepada binatang yang mau mebawa bijinya pergi. Binatang itu adalah kera, musang, dan juga manusia. Dan upah yang disediakan berupa daging buah yang lembut, manis dengan aroma khas durian.
Ketika memerhatikan anak-anaknya yang sedang memetik buah-buahan itu Semar tersenyum. Andaikan semua manusia seperti pepohonan itu yang selalu hidup dengan menghidupi mahluk-mahluk di sekelilingnya, yang tumbuh dan berkembang dengan menjaga keseimbangan dengan mereka yang hidup di sekitarnya.
Selesai ngundhuh tarupala, anak-anak Semar bergembira ria, bertembang dan menari berganti-ganti; suka sindhen sesendhoan, sarwi anjoged genti-genti. Semar membiarkan anak-anaknya terus bertembang sambil menari. Karena dia tahu tembang dan tarian itu bukan umbaran nafsu melainkan ekspresi yang spontan dan sederhana atas rasa syukur kepada Sang Pemberi buah-buahan.
Namun semua kegembiraan di Karangdhempel tiba-tiba berhenti ketika dari jauh terdengar tabuh bertalu. Bedhug. Itu menandhakan matahari sedang berada pada titik kulminasi langit. Radiasi matahari sedang berada pada puncak intensitasnya. Segala sesuatu yang ada di alam raya menjadi lebih peka dan keseimbangannya sedang rawan. Maka semua kegiatan harus leren, ngaso, berhenti. Manusia harus menunggu sampai alam lerem kembali sebelum memulai kegiatan selanjutnya. Kalau tidak dia bisa terhisap dalam pusaran ketidakseimbangan alam yang akan berpengaruh buruk pada dirinya. Maka Semar dan anak-anaknya duduk diam di bawah pepohonan. Mereka diam dan menunggu sampai matahari tergelincir.
Pulang dari Karangdhempel, Semar masuk kembali memimpin Dewan Perwakilan Pamong di Kabupaten Madukara. Leren, ngaso, atau cuti telah membuat raganya lebih segar dan jiwanya lebih kaya. Leren adalah menengok sebentar ke belakang untuk melihat apakah langkahnya tidak menyimpang. Ini penting karena Semar amat sadar lintasan hidupnya akan berakhir pada leren yang sebenarnya, yakni ketika bali marang pangayunaning Pengeran sudah tiba. Agar bisa pulang dengan selamat alur hidup yang ditempuh tidak boleh sesat. Upamane wong agesang, tan wurung mulih. Leren. (SuaraMerdeka.com - 04 MARET 2013)
(/CN37)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar